Aceh Singkil,24Jamindonesia – Fungsi minyak goreng subsidi sebagai penyangga kebutuhan masyarakat kecil di Aceh Singkil kian dipertanyakan. Di tengah kabar stok menipis, harga Minyakita justru melonjak hingga nyaris menyamai minyak premium. Masyarakat mengadukan hal ini dan di duga ada yang sengaja mempermainkan harga minyak goreng subsidi.
Di sejumlah titik penjualan, minyak subsidi itu kini dibanderol Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter. Padahal, selisihnya sangat tipis dengan minyak goreng non-subsidi seperti Sanco, Filma, dan Bimoli yang dijual di kisaran Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per liter.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar: di mana letak kendala sebenarnya—stok, distribusi, atau pengawasan?
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Aceh Singkil, Safrijal, mengakui adanya kenaikan harga yang dipicu keterbatasan pasokan.
“Kondisi harga minyak ini mengalami kenaikan karena faktor ketersediaan yang sedikit langka,” ujar Safrijal
Namun, penjelasan soal kelangkaan dinilai belum cukup meredam kegelisahan warga. Pasalnya, fenomena serupa bukan kali pertama terjadi—dan hampir selalu berujung pada lonjakan harga di tingkat konsumen.
Pemerintah daerah mengklaim tengah bergerak. Koordinasi dengan Perum Bulog dilakukan untuk menambah pasokan, sekaligus menelusuri penyebab tersendatnya distribusi minyak subsidi di wilayah tersebut.
“Langkah konkret sementara memastikan tambahan stok dari Bulog dan memperkuat koordinasi dengan TPID,” katanya.
Di sisi lain, lemahnya pengawasan menjadi sorotan. Celah di rantai distribusi diduga membuka ruang bagi permainan harga, sehingga minyak subsidi kehilangan perannya sebagai barang yang terjangkau.
Safrijal pun berjanji akan memperketat kontrol di lapangan. Ia menegaskan tak akan segan menjatuhkan sanksi kepada distributor yang terbukti melanggar aturan harga.
“Kami akan tingkatkan pengawasan. Jika ada yang bermain dengan harga, akan kami tindak tegas,” Katanya.
(Irwan Syahputra)


Social Header